To Brulum, forgive me and thanks you so much.


                Malam semakin larut, jarum jam terus bergerak maju, tanpa berbalik sedikitpun terkecuali aku memutar alat pengaturannya. Mataku sulit sekali terpejam, meskipun sudah merasa lelah, lelah karena pekerjaanku yang begitu banyak di kantor serta lelah hatiku yang tak kunjung menemukan pelabuhanku.
                Pernikahanku yang semakin dekat hancur seketika, karena sikapku katanya. Perjalanan penjang yang kita lewati semuanya sia-sia, dia tak pernah percaya aku mencintainya, ingin berlabuh, ingin merasakan hangat dalam dekapannya di saat dingin menerpa.
                Ku pandangi darah yang ada di tanganku, serta darah yang berada di mulutku tak kunjung berhenti. Haruskah aku cek up lagi ke dokter untuk memastikan mulutku baik-baik saja, tapi rasanya tidak perlu, aku sudah tidak ingin dirawat ruangan yang hanya ada aku seorang diri menahan sakit yang aku rasakan tanpa dikuatkan oleh siapapun. Entah kenapa akhir-akhir ini mulutku sering berdarah tiba-tiba.
                Untuk laki-laki yang ku cintai saat ini, bacalah baik-baik, tidak ada sedikitpun keinginanku melukaimu, kali ini  kau harus percaya padaku, aku hanya ingin kita baik-baik saja, kau pasti tau aku mengetiknya seperti apa? Aku hanya ingin berhubungan baik pada saudaraku karena bagaimanapun mereka adalah keluarga, masih ada darah yang sama antara aku dan mereka.
                Tapi sering kali kau menangis karena ulahku, sikapku dan untuk kesekian kalinya kau sering terluka oleh prempuan yang tak tau diri sepertiku, aku sudah melakukan semuanya, meninggalkan semuanya, tapi mereka? Aku tidak ingin meningglkannya, selangkahpun.
                Pernikahan adalah hal yang sakral bagiku, aku tidak ingin mempermainkannya, begitupun kamu, aku sangat yakin itu. Pernikahan adalah bentuk kebahagiaan dari dua insan yang sudah mempunyai komitmen.
                Sering kali kau meneteskan air mata, melukai diri sendiri karena ulahku. Apakah kamu berpikir aku tidak terluka setiap air mata menetes di pipimu? Aku sangat terluka sayang, sangat. Tapi kamu tidak pernah tahu itu.
               kali ini kamu menghapus semua kontak yang berhubungan denganmu, kenapa? Kamu sudah tidak sudi denganku? Kamu tidak tahu bagaimana peraasanku padamu? Kamu tak pernah tau!
               Pernikahan bukanlah arena permainan kita sayang! kamu meninggalkanku kesekian kalinya, benar-benar meninggalkanku, hal yang tidak pernah kuduga sebelumnya padamu, aku tidak tau bagaimana expresimu ketika membaca jika kau menemukan ketikan ini.
               Sayang, aku akan menuruti permintaan kamu malam ini, aku tidak akan menganggumu lagi, tidak akan ada chatting yang kadang mengganggumu, tidak akan ada air mata karena diriku, senyumlah bersama prempuan lain, semoga aku ikhlas dengan kegagalan pernikahan kita.
                Mei, akan menjadi sejarah untukku, dimana mei tahun lalu kau memilih prempuan lain, dan mei tahun ini aku harus rela, rela melepaskanmu, mengiayakan keinginanmu.    
            Aku selalu berdo’a kepada Tuhan untuk memudahkan urusan kita, melancarkan hari kita berdua, ternyata Tuhan sudah memberiku jawaban malam ini, bahwa aku tidak pantas untukmu, bahwa aku sering melukaimu, Tuhan ingin kamu bahagia bukan denganku. Terima kasih atas semuanya, jangan menangis lagi. Aku akan berdo’a untuk kebaikanmu.
           Jangan datangi tempat ini lagi yang menyebabkan air matamu selalu jatuh, jangan mengenang lagi, berbahagialah. Yakinlah aku akan baik-baik saja, meskipun tidak mudah untuk aku lewati. Terima kasih Brulum. Percayalah aku tidak akan menganggu kehidupanmu, kecuali aku akan hadir di suatu hari dan akan menjadi orang asing untukmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

life

24jam