Kekalutan dalam secangkir Expresso





Stop mi, kamu sudah banyak meminum expresso” Tangannya menahan tanganku yang memegang segelas expresso.
“Aku salah apa sya? Bagaimana bisa semua itu terjadi? Aku tidak percaya Sya, sama sekali tidak!” Air matanya terus mengalir dipipinya.
“Sya aku tidak pernah berpikir negatif sama dia sama sekali, bahkan ketika dia dibawa ke Rumah sakit saat itu, aku tidak pernah berpikir negatif dengan mereka berdua! Karena Kesehatan dia itu lebih utama dibanding pikiran burukku  maka aku akan membuangnya jauh-jauh sya, aku sadar aku tidak bisa selalu ada untuknya karena jarak. Aku kira jarak beratus-ratus meter tidak akan kalah dengan kepercayaan. Aku kira berbeda propinsi tetap akan menghangatkan komunikasi kita berdua. Aku kira....” Tangisannya membuat ia sulit berbicara, seketika dunia ini beku.
Tiga hari yang lalu Mia tidak keluar dari kamar, tidak terkena sinar matahari. Dia memilih untuk tetap diam didalam menahan tangis yang sebenarnya tak tertahankan dan dinginnya tubuh yang membuat bergetar terus menerus. Wajahnya sangat kusut, matanya sangat sembab dan say. Syasya yang selalu datang membawa makanan dan cappucino yang biasa mereka minum ketika menongkrong di “Seven Sky”. Namun yang mia rasakan hanya hambar, tidak ada yang bisa ia lahap.
            Syasya mencoba mengajak mia keluar dan membawanya ke tempat mereka menikmati kopi. Sudut ruangan yang gelap disanalah mia memilih tempat untuk menikmati expresso yang ditemani syasya di tampat favorit mereka, hanya kali ini Mia memilih menu coffe yang berbeda. Tangisan yang tidak berhenti-henti selama beberapa hari setelah mia mendapatkan kabar tentang laki-laki yang disayangi dari prempuan yang kini bersamanya. Terlihat jelas sekali mata sembabnya, dia memilih menggunakan kacamata untuk menyamarkan mata sendunya.
            Hari itu Mia lebih memilih setelan warna pastel, ia berharap warna itu akan merubah kekalutannya, sedangkan Syasya lebih memilih warna gelap.
“Keluarkan semuanya mia, sampai kamu berasa hatimu tenang. Aku disini akan menemanimu. Menangislah jika itu membuat kamu lega.” Tangannya Syasya terus mengelus kepala Mia yang berada di meja menangis tak henti-henti.
“Sya, katakan padaku aku salah apa? Bagaimana bisa mereka berbuat diluar nalar aku? Aku yang sama sekali tidak pernah berfikir negatif sama mereka. Mereka orang yang baik, kenapa bisa itu terjadi sya? Bagaimana bisa mereka berhubungan sedangkan kita selalu menjalin komunikasi yang baik seperti biasa. Katakan Sya, aku salah apa? Apa memang aku ditakdirkan seperti ini?” Tangannya mengambil segelas expresso yang ia akan telan.
            Kali ini syasya tidak menahan dia, Syasya mengenal mia selama 4 tahun lamanya, dia tahu bagaimana perilaku Mia. Expresso itu habis ia telan semuanya, rasa pahit itu sama sekali tidak ia rasakan.
            Laki-laki yang berada disana, yang ia cintai dan sangat ia sayang bahkan Mia sudah memilih dia untuk menjadikan teman hidupnya ternyata memilih prempuan lain yang kini berada disana didekatnya. Mia kalah dengan jarak, mia yang kini kalut dan tak berdaya. Mia selalu mencoba berjalan sekalipun bergontai, tubuhnya sangat lunglai. Tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuhnya selama beberapa hari. Syasya yang menjadi teman setia, terus menemani mia berjalan yang amat pelan tidak seperti biasanya dan Pipinya basah karena air mata.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

life

24jam