Ini cerita tentang “EL”
Hujan masih saja turun,
membasahi bajuku dan sepedaku. Perjalanan enam kilo tidak lah dekat, bagiku
masih terlalu jauh. Meskipun sudah tiga tahun ini aku di jogja, tapi tetap saja
aku merasa jarak sepanjang itu terlalu jauh.
Hujan
di pagi hari ini tidak begitu deras, tapi dengan sepanjang perjalanan itu
tentu bajuku basah apalagi hari ini “Jadwal Presentasiku.” Sepanjang jalan
itu aku berpikir, entahlah. Sepertinya itu memang tidak begitu penting aku
bahas.
El
adalah sahabatku di kota yang sangat asing ini, meski kita satu daerah, tapi
aku tidak mengenalnya disana. Dia temanku yang unik.
“El, kamu kok pake celana? Ini kan
hari prsentasi kita!” Tanyaku setengah marah. Oh ya dia kebetulan satu kost
sama aku.
“Hehehe.. tenang aja Ay, aku bawa
kok. Rok ada di tasku, tengok tah!” Jemarinya menunjukan tas coklat kotak
kecilnya, mungkin lebih mirip sama coklat yang versi besar. Kayaknya enak untuk
di makan, but... kamu jangan imajinasi yaa, nanti aku pengen terus kamu makan
laptop kamu. Kakekku bilang itu berbahaya lalalala.. emang lagu Wali hehehe..
yahh tuh kan. Kamu jadi play lagu wali-Nenekku pahlawanku. Ia kan? Tuh kan ia?
Kamu play kan? Ahh.. gak asik. Udahan ah ngetiknya, cape beud hahaha..
Hahahah...
ya deh, aku lanjutin, aku kasih sama kamu, sampe mohon-mohon gitu, karena aku
adalah kategori orang baik beud jadi aku lanjut nih ketiknya.
Setelah
di masuk kelas, sampai jam akhir ternyata presentasinya di cancel. Rese tuh
Dosen... sumpah rese! Tapi yaa namanya
juga dosen, mau seperti apapun tetap benar. Aku sama el memutuskan untuk
berjalan kaki dan sepeda kita. Kita tinggal di kampus, hanya untuk mengelilingi
indahnya jogja saat senja.
Mungkin
lebih cocoknya, dia adalah manusia senja hahhaa.... please jangan bayangin dia
jadi matahari, no.. itu salah besar. Dia gadis yang cantik, matanya sangat
menawan, sifatnya yang menyenangkan menjadikan dia wanita yang plus plus, kalau
aku mungkin minus, minus dalam keburukan eaaa... hahahaha
“El, aku ingin banget nanti kalau
punya rumah warna catnya putih tapi ada bagian tembok yang muncul gitu, mmmm
ibarat 3D kali ya hehe.. klasik.” Kakiku terus berjalan, mataku memandangi
langit sore di perjalanan pasar.
“Kalau aku sih Ay, aku ingin rumahnya
bertemakan klasik juga, tapi kayu mungkin.” Tangannya mengelus dagunya, mata
kecilnya melihat ke langit, sama seperti aku. Mungkin kalau di depan ada
tembok, terus kita sama-sama kejedot hahahaa. “Kayu yang dipenuhi dengan pohon
atau tumbuhan. Karena aku ingin melihatkan bahwa hutan tidak selamanya menyeramkan.”
Lanjutnya dengan adegan yang sama.
“Hahahaha..” imajinasiku berjalan
dengan cepat tanpa bisa aku menghentikannya.
“Kok kamu tertawa sih hahahaa....”
Tanyanya dengan nada tertawa pula. Ini lah El, jika aku tertawa maka tanpa
perintah dia akan tertawa pula.
“Aku ngebayangin El, kalau kamu
mendesain rumah seperti itu, nanti hahahhaa...” Sumpah perutku sakit, tidak
tahan dengan imajinasiku.
“Apa hahahaha...” Tangannya mencubit
lenganku.
“Ya nanti kamu adalah putrinya, anak
kamu jadi kerdil dan suamimu menjadi raksasa hahahahha..” Jawabku dengan tak
tahan untuk membayangkannya.
“Sialan hahaha..”

Komentar
Posting Komentar