Aku, kamu, Cappucino dan Gayo



                Aku berjalan menuju lorong kampusku yang terlihat gelap, bukan? Bukan, karena tidak ada lampu, namun saat itu memang tidak dinyalakan karena hari masih terlihat siang, dan sedikitnya cahaya matahari yang memasukinya.
 “Nya kamu mau kemana?” Suara seorang yang tidak asing bagiku.
“Aku mau ke warung bawah kampus. Mau ikut?” Badanku berbalik menatap ke arahnya, hanya untuk melihat sosok yang berbicara denganku.
“Mmmm...” Ia mengangguk dan kemudian mengikuti langkahku.
Ok val.” Begitulah chat dari Zain.
“Jadi Val?” Tanyaku.
“Ya Nya.” Jawabnya dengan senyum.
Setelah kami sesampai warung, kami duduk di dingklik yang berada di warung sebelah kampus.
“Tumben kamu nggak di kantin Anya?” Tanyanya.
“Ya, aku lagi lapar aja. Oh ya aku pesan cappucino ya kalau bisa besok ok.” Jawabku, dia seorang Barista di caffenya.
“Aku sudah resign di caffe itu, aku lagi ingin istirahat dulu Nya.” Jawabnya dengan tangan yang menggeser nasi rames. “Kamu tahu ndak? Ada Studio Coffe bukanya jam enam pagi, kalau kita ngopi disana pagi hari enak deh Nya, rasanya mmmm.. nyaman banget dan mungkin seger kali ya.” Lanjutnya.
                Dan aku hanya menikmati cara dia berbicaranya.
“Begitu ya, Di?” Jawabku singkat sembari aku membayangkannya apa yang Dito katakan padaku
“Ya udah besok pagi-pagi aku datang ke sana, nanti aku beliin buat kamu.” Mulutnya masih mengunyah makanan yang telah kami pesan tadi berdua.
“Hai Nya, tadi Adrian chat aku. Katanya dia mau memberiku hadiah Ulang Tahun Kopi dari Aceh, katanya namanya Gayo.” Jawabnya dengan wajah sumringah.
“Wah, mau dong.” Jawabku sembari menggenggam  kedua tanganku di atas meja perpustakan dengan rasa yang bahagia, karena si tembem sahabatku hari ini adalah hari ulang tahunnya.
“Ya Nya, nanti kita bikin kopi bareng ya.” Wajahnya sangat bahagia. Ya memang seperti itulah Zie orangnya.
Keesokan harinya seperti biasa aku ngampus, karena hari ini bukan hari libur. Aku duduk di taman yang berada di samping kampus.
“Ini kopinya.” Tangan seseorang menyodorkan  sebuah kopi padaku, tentu aku sangat menyukainya.
“Gimana kopinya?” Tanyanya.
“Enak, makasih ya.” Jawabku dengan sumringah, aku sangat menyukai apa yang dibawakan di hari ini. But.. dia bukan Dito yang janji  untuk membawakan cappucino, bukan pula Zie dan Adrian yang akan menyeduhkan secangkir kopi  Gayo.
                Tapi kopi itu dari Valeri, ia telah membawakannya untukku yang telah dibelikan oleh Zain, hehhee..
Inilah secangkir cerita tentang kopi yang tidak tahu dimana sudutnya.
Dari siapa?
Untuk siapa?
Punya siapa?
               

Komentar

Postingan populer dari blog ini

life

24jam